Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Blank

26 January 2012, 01.55
Ever since that day, I don't remember seeing myself laugh sincerely. It's like the moment my father gone to heaven half of my soul is gone too.

There are days when I don't know what to do. Days when I forgot i need to eat. Days when time passes so quickly. Days when time suddenly stop.

The only purpose in my life right now just to make my Mom happy. Yet I always be the one that make her cry. I wanna punch myself for that.

People says time will heal everything. I just wanna believe that is true. But it's been one and half year and I still feel miserable.

I never blame God for taking away my Dad. How could I? If the only way my father free from all the pain is death. 

I just sometimes wish, my father still here. Screaming to me, slap my face (things he never do) or do anything just to make me realize I'm doing wrong.


Be happy up there My Lovely Dad, even it's hurt. I'll make sure I'm okay.You don't need to come to my dream. Just go straight, no turning back. Because our world is different now. And thinking you're happy in heaven made me happy too.



Your forever little girl.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Turut Berduka Cita

Maaf ya kalau akhir-akhir ini cerita blognya sedih terus. Ini karena saya mau mengingat dengan detil tentang papa saya. Oh ya, sampai sekarang saya masih nyebut papa bukan almarhum papa/arwah papa. 

Dari 26 Januari sampai saat ini masih terus mengalir ucapan turut berduka cita. Dari keluarga, sahabat, teman lama dll. Dan selalu saya jawab dengan template "Makasih ya, sekarang papa sudah tenang di surga. Maafin kalo ada salah". Turut berduka cita saya anggap ucapan yang wajar sampai suatu saat mama saya terima telepon dari sepupu saya yang bilang turut berduka cita dan mama jawab."Turut bersuka cita aja, om sudah gak sakit lagi sekarang. Sudah kembali ke rumah Bapa di surga

Gila rasanya kayak ditampar dengar ucapan mama. Bukan salah yang ngasi ucapan sih. Tapi salah saya yang mengartikannya. Mama benar, walaupun sakit banget tapi bukan saatnya kita berduka cita yang ada harus bersuka cita. Papa saya sakit bertahun-tahun, di akhir itu menderita banget. Sekarang dia sudah Tuhan lepaskan sakitnya (sesuai doa saya). Papa meninggal tanpa penyesalan. Tanpa penyesalan buat papa dan tanpa penyesalan buat kami. 

Papa meninggal setelah berjuang keras melawan sakit (sejuta macam terapi dan obat), papa meninggal setelah berpasrah pada Tuhan (doa, novena, rosario, sampai puncaknya Sakramen Perminyakan), papa meninggal setelah dia sempat bilang dia cinta istri dan anak-anaknya luar biasa.

Untuk kami pun semoga tidak ada penyesalan. Papa meninggal setelah berjuang bersama kami mencari segala jenis pengobatan, papa meninggal setelah menyelesaikan kewajibannya (memberikan ilmu buat anak-anaknya dan memastikan keuangan kami tidak terganggu setelah dia pergi), papa meninggal setelah kami semua minta maaf dan  bilang kami cinta padanya, papa meninggal di tangan saya dan mama (diiringi doa dari kakak dan adik di tempat berbeda).

Tanpa maksud apapun, kepergian papa ini memberikan kelegaan besar buat saya. Karena terus terang sakit papa menghabiskan energi kami semua terutama mama. Mama yang dulunya aktif mengurangi drastis segala kegiatannya menghabiskan waktu keliling kota mencari obat-obatan yang disarankan semua orang, menghabiskan waktu berpikir makanan apa yang menimbulkan selera sekaligus tidak memicu gejala sakitnya, waktu tidur mama berkurang drastis karena selalu terbangun tiap malam memastikan papa tidak merasa sakit di perutnya. Tidak hanya papa yang berkurang drastis berat tubuhnya sampai 15kg, mama pun secara tidak langsung menjadi semakin kurus karena memikirkan dia. 

Kepergian papa buat saya sekaligus memberikan kelegaan bagi papa sendiri. Selama ini dia selalu merasa merepotkan mama dan kami anak-anaknya. Papa pernah bilang ke mama "gimana ini, suamimu tambah kurus, sakit-sakitan gak bisa ngapa-ngapain" while mama dengan hati besarnya bilang "sakitnya kan sekarang aja pak, Tuhan lagi kasih sakit. Nanti kan kalau udah sembuh balik lagi kayak semula". Saya juga ingat gimana papa dengan hebohnya ngingetin saya harus makan enak waktu nungguin di rumah sakit sementara dia sendiri berjuang keras melawan sakit sekaligus berjuang keras memaksakan beberapa sendok makanan masuk ke mulutnya.

Apa yang berubah sejak kepergian papa? Saya jadi sering menangis atau bisa dibilang tiap hari nangis. Saya ingat waktu awal-awal papa pergi saya berusaha keras sesedih apapun atau sederas apapun air mata mengalir saya gak akan "nyebut-nyebut" nama papa. Karena orang bilang "kalau dipanggil terus nanti jalannya ke surga gak lapang. Nanti dia akan berhenti herus". Gimana saya sekuat tenaga merapal mantra "Papa abis ini kita pulang ke rumah bentar ya, papa di Misa- in dulu, papa ketemu adik-adiknya dari luar kota dulu, terus kita ke makam abis itu papa jalan terus jangan berhenti. Kita baik-baik di sini".

Salah satu teman papa yang melayat bilang kalau kesedihan gak akan cepat hilang justru terasa setelah beberapa bulan. Dan itu benar banget. Setelah 2 bulan papa pergi, rasa kangen itu luar biasa rasanya. Saya hampir nangis beli mie goreng yang lewat karena setiap beli mie seperti itu papa selalu bilang "mie kere" (padahal beli yang mahal juga ogah dia :D). Di tukang sate teringat papa yang selalu beliin sate kalau adik saya gak enak badan. Di warung rujak cingur keingat papa yang selalu beli rujak cingur kalau ke Surabaya. Lima hari di Surabaya berarti 5 porsi rujak cingur berbagai versi. Saya menangis di gereja karena teringat papa yang bilang ke mama "Kalau kamu dikasi Tuhan kekuatan bisa doain/nyembuhin orang sakit dipakai ya bu". Saya nangis waktu terima sms banking (ya, no.papa sekarang saya yang pakai) terima pensiun/bulan atau hak-hak papa yang lain. Saya nangis karena biarpun dia sudah pergi, kewajibannya dia ke keluarga tetap dia laksanakan.

Mengutip doa dari Puji Syukur :

Kami yakin bahwa hidupnya hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan ; dan bahwa suatu kediaman abadi kini tersedia baginya di surga. Didasari oleh keyakinan ini, semoga dalam menghadapi maut yang tak terelakkan kami tidak lagi merasa takut, karena sungguh-sungguh didukung oleh harapan akan hidup abadi yang Kau janjikan kepada kami.


*balik nangis lagi*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamu makan yang enak sana. Jangan karena nungguin di rumah sakit semua jadi sakit. Beli McD atau KFC kah? Atau di samping RS ada ayam bakar enak. Di seberang jalan dikit ada nasi padang. Atau naik angkot satu kali ke mall sana. (While open his wallet and giving me money).



And a couple days after that, he passed away.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Conversation

Bapak sayang ibu kan?

Sayang luar biasa.

Bapak sayang anak-anak kan?

Sayang luar biasa.

Bapak masih semangat kan?

Iya masih semangat.



And hours after that, he passed away.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sumatera dilanda gempa, ditambah pula peringatan tsunami. Orang berbondong-bondong cari perlindungan. Semua ini membuat saya teringat kejadian beberapa tahun lalu.


Saya sedang kuliah di Surabaya, karena satu dan lain hal saya tidak bisa pulang liburan sementara kakak dan adik saya berlibur ke Balikpapan. Mungkin masih ada yang ingat saat itu salah satu kilang Pertamina di Balikpapan meledak (atau terbakar?) Dan sempat membuat heboh berita di tv. Yang paling membekas di ingatan adalah saat itu papa saya harus pergi ke Kilang untuk menangani hal itu. Dari cerita saya dengar kalau suasana di kompleks rumah saya yang kebetulan adalah kompleks pegawai Pertamina dan terletak dekat sekali dengan kilang mendadak heboh. Kejadian ini terjadi malam hari. Para pekerja ramai menuju ke kilang dengan pakaian safety lengkap (termasuk papa saya)

Yang membuat saya terharu adalah papa saya berpesan ke keluarga saya untuk lari menjauh ke arah luar kota yang dekat pantai. Dia bilang lebih baik dia saja yang jadi korban kalau keadaan memburuk. Dia kasian kalau saya yang di luar kota sendirian tiba-tiba gak punya keluarga. Untuk yang tidak tahu, di dalam tanah di Balikpapan tersebar pipa yang dialiri minyak maupun gas. Jadi orang-orang dulu pernah bilang kalau kilang meledak semua, dampaknya bisa menghanguskan seisi kota. Tapi saya gak tau benar tidaknya.

Puji Tuhan keadaan aman terkendali. Tapi saya akan selalu ingat akan papa saya yang mengorbankan dirinya untuk saya dan keluarga. Bahkan sampai sekarang pun saya masih menangis kalau teringat ini.

Dear Dad in heaven, thank you for all that you've done for us. It's time for you to be happy up there. You don't have to feel pain like your last day. We miss you, always. We'll never forget you. Till we meet again Dad. ♥
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I Miss You

I miss you when I'm happy
I miss you when I laugh
I miss you when I'm sad
I miss you when I cry
I miss you all the time Dad. Really.
Hope you're doing good up there.


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

It still amaze me how hundreds of people came in my father's funeral. He's not really sociable I think. But everyone said he's kind, full of smile and a hardworker. I'm proud of you Dad. Really. And miss you.



*pardon my grammar*
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Papa saya tidak sempurna, tapi seperti yang dia bilang di akhir-akhir hidupnya dia cinta kami luar biasa.



Truly deeply miss you Dad. ♥


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Doamu Dikabulkan


Ketika doamu benar-benar dikabulkan apa kamu sudah siap?


Papaku sudah kembali ke rumah Tuhan. Apa rasanya? Masih tidak percaya, sering menangis sendirian kalau tiba-tiba sadar sudah tidak punya papa lagi.

Rasanya baru kemarin waktu keluarga merayakan natal di rumah.

Rasanya baru kemarin waktu saya dan mama senang luar biasa ketika akhirnya papa mau dirawat.

Rasanya baru kemarin menghabiskan waktu seharian di rumah sakit. Melihat berbagai macam obat dan suntikan diberikan ke papa.

Rasanya baru kemarin melihat papa menerima tranfusi darah karena trombositnya yang turun drastis.

Rasanya baru kemarin papa dan mama merayakan 26 tahun pernikahannya tanggal 25 Januari 2012.

Rasanya baru kemarin juga ketika akhirnya papa pergi tanggal 26 Januari 2012. Papa hanya bertahan sampai 26 tahun menikah dengan mama.

Saya tidak terlalu hapal dengan tanggal ulang tahun pernikahan papa mama. Namun saya yakin selamanya saya akan ingat tanggal itu.

25 Januari 2012, setelah menunggu beberapa lama sampai kondisi papa memungkinkan akhirnya diberikan obat kanker yang hanya diminum 2 kali. Hari itu juga kondisi papa semakin memburuk, mulai gelisah dan bicara yang tidak jelas, kesadaran pun mulai berkurang drastis. Papa beberapa kali bilang “bagus-bagus” (yang kemudian dibilang orang bahwa itu tanda papa telah melihat penjemputan Tuhan yang indah). Papa juga sempat bilang ke mama “jangan  ke mana-mana, tungguin aku sampe pagi”. Kata-kata yang kita anggap sebagai racauan biasa. Tanda-tanda lain yang kita abaikan semata-mata karena yang kita pikirkan hanya papa akan sembuh. 

Kondisi papa mulai memburuk sekitar hampir tengah malam. Tensi turun, mulai sesak napas dan lain-lain. saya sempat siap-siap dan bilang ke mama kalau sekarang mungkin saatnya papa dipindah ke ruang ICU karena kondisi begini. Ternyata tidak dipindah namun alat-alat ICU yang dipindah ke kamar papa. Papa dipasang monitor untuk melihat tekanan darah, denyut nadi dan oksigen. Saya sempat ngetwit, “keseringan nonton Grey’s Anatomy jadi agak biasa melihat ini”. Yang nyatanya tidak akan pernah biasa melihat kondisi seperti ini. Beberapa kali alatnya berbunyi karena papa di bawah batas aman. Suster sudah keluar masuk. Dokter jaga pun sudah memeriksa yang saya serang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena memang papa sudah kritis sekali. 

Mama kemudian menelepon beberapa keluarga dan orang gereja karena merasa tidak sanggup menghadapi berdua. Saya sudah menangis melihat angka di monitor yang terus turun. Tuhan kasi jalan yang baik, keluarga dan orang gereja datang dengan sangat cepat. Yang sampai sekarang saya tidak habis pikir bagaimana dengan rumah sejauh itu mereka datang cepat. Tensi papa terakhir yang masih saya ingat adalah 55/25. Dan tiba-tiba kamar rawat dipenuhi dokter dan banyak suster yang berusaha menyelamatkan papa dengan memberi bantuan pernapasan dan berbagai macam suntikan. Saya kemudian diminta mama untuk membisikkan ke papa bahwa saya ikhlas dia pergi (yang saya tahu berat sekali untuk mama). Saya dengan keyakinan yang besar membisikkan papa “papa aku ikhlas papa pergi, tapi kalau memang belum waktunya balik lagi cepat ya pa”. saya masih berharap keadaan seperti di film bahwa dengan bisikan itu papa tidak akan mengikuti “cahaya” dan kembali ke tubuhnya. Namun setelah keadaan semakin buruk dan tampak tidak ada perubahan walau dokter dan suster tidak berhenti bekerja saya akhirnya membisikkan lagi “Papa aku ikhlas papa pergi”. Ternyata jauh di sana di tempatnya masing-masing tanpa sadar kakak dan adik saya mengatakan hal yang sama. Dan akhirnya setelah berusaha sekian lama dokter akhirnya bilang “Bapak sudah gak ada bu”. Saya dan mama karena sudah menangis dari awal seperti tidak ada bedanya. Kami masih blank bahkan sampai saya mengabarkan berita ini pada kakak saya. Saya juga masih blank ketika beberapa menit setelah itu saya harus langsung ke rumah mengambil pakaian untuk pemakaman papa saya.  Saya masih juga blank ketika tiba-tiba saat saya kembali ke ruang jenazah sudah banyak teman papa dan mama saya yang datang. Dan untuk pertama kalinya ruang jenazah terasa tidak menyeramkan. Dan pagi hari itu terasa panas.

Saya juga masih blank ketika diminta mama memilihkan peti apa yang akan digunakan untuk papa. Dan tahu-tahu kami sudah ada di mobil jenazah untuk mengantarkan papa kembali ke rumah. Berkali-kali saya bilang dalam hati “Pi, kita pulang dulu ke rumah sebentar ya sebelum papa nanti pergi ke rumah Bapa”. Rumah tiba-tiba sudah rapi, saudara lain sudah ada di rumah.  Dalam hitungan jam tenda sudah dipasang di rumah, teman-teman kantor dan tetangga berdatangan. Ketika kemudian kakak dan adik sampai saya baru sedikit sadar kalau ya saya sudah tidak punya papa lagi. Dan kemudian saat saya masuk lagi ke kamar Papa (setelah sebelumnya sudah bolak-balik) beberapa jam sebelum adik-adik papa dari luar kota datang saya mencium bau papa. Saya bilang dalam hati “Pi, sekarang di sini gak papa. Tapi nanti kalau adik-adiknya udah kumpul terus waktunya dimakamkan Papa jalan terus ya jangan noleh lagi ke belakang”. (Dan setelah pulang dari pemakaman saya tidak lagi mencium bau papa).

Tahu-tahu adik-adik papa sudah berkumpul semua, dan kami pergi ke pemakaman. Sampai di makam pada saat doa sebelum peti dikubur saya masih melihat sekeliling berharap bahwa seperti di film saya akan melihat papa tersenyum kemudian hilang. Tapi nyatanya tidak. 

Papa memang sudah pergi. Sampai sekarang memang masih belum percaya kalau secepat itu papa diambil. Sampai saat menulis ini pun saya masih sering menangis, tapi tidak dihadapan mama karena saya tahu dia jauh lebih sedih.  Tersadar kalau nanti aka nada banyak masa yang tidak akan saya lewati dengan papa. Tidak akan ada papa yang mengantar saya ke altar waktu misa pernikahan. Anak saya nanti tidak akan punya kakek dari saya. Tapi saya percaya Bapa di surga akan selalu menjadi “Papa” saya dan papa saya nanti akan selalu melihat dan tersenyum dari atas. 

Yang membuat saya lega adalah, sampai akhir hayatnya papa memegang teguh imannya kepada Bapa di surga. Sakit semakin mendekatkan dia ke Bapa. Papa saya sudah melaksanakan kewajibannya, dia sudah menerima sakramen perminyakan. Papa sudah melaksanakan kewajibannya sebagai suami, setia sampai mati kepada mama tanpa pernah selingkuh, papa saya sudah melaksanakan kewajibannya mendidik kami bertiga sampai besar.

Saya selalu berdoa minta papa sembuh, namun semua itu harus sekehendak Bapa di surga. Doa saya dikabulkan, papa saya sudah tidak sakit. Dan semoga papa sekarang sedang berada di sisi kanan Bapa, di tempat yang Dia janjikan bagi orang yang percaya kepadaNya. Doa saya dikabulkan, semoga saya siap menerimanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Baru sadar, aku cerita soal sakit papaku 25 Januari dan besoknya papaku diambil Tuhan. :)
Papaku bertahan hanya sampai ulang tahun perkawinan ke 26 tanggal 25 Januari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dad Passed Away

Terima kasih atas doa dan dukungan selama ini teman-teman.
Papaku sudah kembali ke rumah Bapa 26 Januari 2012.
Sakitnya sudah hilang sekarang :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Story

Yang follow twitter, jadi teman facebook atau BBM saya mungkin bertanya-tanya kenapa status saya begitu sedih, pasrah dan sebagainya. Akan begitu menyedihkan kalau saya harus mengulang-ngulang cerita, karena itu saya coba cerita di sini ya. Untuk teman dekat saya yang merasa "kok saya gak diberitahu", I must say it's not easy to tell this story. Ketika akhirnya saya mau cerita karena saya (dan keluarga) sudah melewati tahap "denial". Kami sudah menerima hal ini dengan pasrah. :)

Papa saya divonis kanker hati. Puji Tuhan menurut dokter walau parah masih treatable. Bagaimana bisa terjadi? Papa kena hepatitis B mulai tahun 2010. Itupun tahunya dari medical check up tahunan perusahaan. Dari tahun 2010 papa sudah rutin berobat ke dokter dan minum obat Sebi**. Saya tidak bilang bahwa obat tersebut jelek, hanya saja obat tersebut ternyata tidak cocok dengan papa saya. Sampai kemudian tahun 2011 setelah melakukan pemeriksaan lanjut ternyata hepatitisnya sudah berubah menjadi sirosis hati. Setelah beberapa lama, sirosis hatinya sekarang berubah menjadi kanker hati.
Banyak yang bertanya apa peyebabnya? Saya juga tidak tahu pasti. Penelitian menyebutkan hepatitis terjadi karena banyak minum minuman keras dan pola hidup tidak sehat. Saya tidak bilang papa saya 100% hidup sehat, tapi yang jelas papa saya tidak merokok, tidak minum minuman keras, papa saya tidak terlalu suka makan di luar, mantan pelari, mantan petenis dan pernah cukup lama hobi berkebun. Ditelusuri dari keluarga pun, tidak ada gen sakit hepatitis. Jadi mungkin penyebabnya bisa tertular teman atau mungkin memang tidak ada penyebabnya. :)

Seperti yang disarankan banyak orang, kami pun sudah mencari second, thirth and even fourth opinion. Semua diagnosa sama. Selain medis kami pun juga sudah mencoba berbagai macam cara yang disarankan orang. Temulawak, sudah papa minum mulai dari 2010. Mulai dari yang segar, sampai yang bubuk. Keladi tikus, mahkota dewa, daun sirsat, buah merah, akar kayu kuning, obat-obatan herbal dari Kupang, dari Surabaya, sudah kami coba semua. Begitupun dengan berbagai macam terapi mulai dari pijit, kop, bekam, akupuntur sudah dicoba. Dan memang belum ada perubahan.

Kalau ditanya bagaimana perasaan saya dan keluarga? Sedih sudah pasti, gak terhitung betapa banyak airmata yang keluar. Cemas, deg-degan, takut dan sebagainya. Betapa tidak, papa yang biasanya kekar, besar dan kuat sekarang harus kehilangan 15kg bobot tubuhnya, tergeletak lemah di ranjang rumah sakit (papa sudah masuk RS dari 1minggu lalu). Melihat dia yang hampir tidak pernah opname harus diinfus, ditranfusi darah, diambil darah:, disuntik dan minum berbagai macam obat really heartbreaking. Tapi kami masih percaya bahwa Tuhan punya rencana lain, bahwa papa akan sembuh, atau apapun yang terbaik menurut Tuhan akan terjadi.

Papa sekarang sedang menerima perawatan berupa obat-obatan baik yang diminum atau disuntik untuk megeluarkan cairan yang menumpuk dari perut dan sekaligus mengobati kankernya.

Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan doa dari semua orang. Papa masih butuh doa dan support dari semua orang. Untuk kunjungan ke rumah sakit, setelah berkonsultasi dengan suster dan dokter diputuskan kalau papa tidak boleh menerima kunjungan selama beberapa waktu. Tanpa bermaksud tidak sopan tapi memang kunjungan orang yang begitu banyak dan tidak kenal waktu cukup melelahkan papa DAN mama yang menjaga, bahkan membuat kondisi tubuh drop. . Untuk yang ingin berkunjung dan memberi support kami mohon maaf. Support masih dapat disalurkan dengan cara lain seperti sms, telp dsb. Terima kasih sekali lagi kami ucapkan dari lubuk hati yang paling dalam.

Kalau ada diantara pembaca blog ini yang tahu tentang survivor kanker hati atau perawatan-perawatannya kami mohon untuk bisa berbagi informasi. Kalau ada yang ingin dibantu soal mencari obat-obat herbal mari ditanya saja, mudah-mudahan saya bisa bantu. Mari saling berbagi informasi, saling mendoakan.

Terima kasih, Tuhan berkati. :)
*gak menduga bisa menulis seformal ini, mungkin karena otak sedang hang*
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Lebaran

Untuk semua pembaca blog saya, (kalo ada). Walaupun telat saya ucapin "Selamat Idul Fitri ya, maaf ahir batin". Gimana cerita lebaran kalian? Masak apa aja? Dan pertanyaan pamungkas lebaran ini adalah, "kamu Idul Fitri tanggal berapa?" Kalau cerita lebaran saya di Balikpapan begini nih :

29 Agustus malam
Sampai malam melototin sidang isbat, akhirnya jam 10 malam atau lebih (WITA) baru diputuskan kalau Idul Fitri versi pemerintah itu 31 Agustus. Reaksi pertama, bengong, kemudian ngakak. Bukan apa-apa ya, tapi ANEH BANGET kalau baru diputuskan semalam itu. Padahal yang saya dengar rencana awal rapat itu jam 4 sore. Kenapa jam 8 baru mulai??? Dan kemudian shock karena udah masak buat besok. (FYI, half of my mother's family is moslem including my grand mother). Untung aja cuma masak rawon bukan opor seperti tahun-tahun lalu. 

30 Agustus
Bangun jam 6 pagi, karena merasa lebaran masih besok. Padahal tiap lebaran bangun jam 5 karena bantuin mama masak. Setelah itu pindah-pindahin kasur ke kamar ortu. Lebaran ini semua saudara kandung mama saya kumpul. Jadi kamar saya dan kamar kakak dipakai mereka. Akhirnya kita sekeluarga (5orang) numplek blek di kamar ortu. Untung aja ada AC, kalau gak sudah gak nafas. Puji Tuhan kamar di rumah (dinas) ini besar banget jadi diisi orang 5 (harusnya) gak pengap. Tapi kamar ortu saya yang notabene kamar utama dan harusnya paling besar itu jadi semakin sempit karena diisi 3 lemari besar-besar, meja rias dan 2 meja kecil. I was like, ini kamar apa walk in closet??

Jam 9 pagi papa mama seperti dapat ilham, ya sudah kita lebaran hari ini aja. Wong semua udah pada ngumpul. Akhirnya berebutan mandi, siap-siap dan berangkat ke rumah mbah bareng bude yang udah datang duluan dari Jogja. Sampai rumah mbah cuma beres-beres bentar terus pergi ke rumah (sepupu papa saya), karena mikir ntar aja sungkemannya karena saudara belum lengkap. Sampe rumah pakde makan-makan dong ya, terus dibungkusin kue lagi. Asli keluarga pakde saya ini baik bangetngetnget. Dulu jaman mereka masih susah dan papa saya datang merantau dari Jawa, mereka baik banget. Papa saya dikursusin bahasa Inggris dibantuin ini-itu. Dan ketika papa saya sekarang sudah jauh lebih mapan, gak pernah sekalipun mereka mengungkit-ngungkit ke papa saya dan orang lain. Never! Makanya pergi ke rumah mereka setiap lebaran tidak menjadi kewajiban, tapi karena memang pengen datang.

Terus balik ke rumah mbah while my father and lil sister pergi ke bandara jemput bude saya dari Singosari yang bawa anak mantu dan cucunya dari Surabaya. Keluarga ini salah satu keluarga favorit dan panutan banget. Mereka semua muslim yang taat dan sopan-sopan banget. Dan sepupu saya balik lagi ke airport jemput bude saya yang datang dari Jakarta.
Akhirnya formasi lengkap, semua anak mbah saya kumpul. Puji Tuhan banget, gak pernah terjadi selengkap ini selama bertahun tahun. Singosari datang lengkap beserta cucu mantu, Samarinda juga sama, Jakarta datang sendiri, Jogja juga sendiri, Balikpapan ada 2 keluarga besar, Bunyu pun datang beserta istri dan anak. Dan bisa diprediksi dengan orang sebanyak ini yang terjadi adalah sungkeman drama, pake air mata segala (biasanya enggak :D). Setelah makan-makan terus balik ke rumah.

Terus kita skip sampe malam hari, saudara-saudara semua pada ngumpul di rumah untuk foto keluarga!! Ayeyy!! Mengandalkan SLR dan tripod adek saya mari kita berfoto. Dan keluarga mama saya itu banyak banget yaaa. 7 orang anak belum termasuk istri/suami, cucu dan cicit. Susah banget atur posisi, padahal itu jumlahnya mungkin cuma 75 persen dari jumlah keluarga sebenarnya. Yang terjadi adalah, "gak mau di depan, keliatan gendut", "sebelah sini gak keliatan", "senyum dong" dsb. Riwuh euy. Setelah itu papa saya inisiatif untuk ngajak makan di luar dan kemudian batal aja gitu karena ada takbiran keliling yang mana semua restoran yang kita mau datangin jalannya ditutup aja gitu. Errr *nguyah pasir*

31 Agustus
Pagi-pagi lebaranan dulu ke rumah tetangga, makan bakso, salad dll. Dan kaget karena tau-tau pakde saya (suami bude di Jogja) udah nongol depan rumah. Gak bilang-bilang dan gak minta jemput. Mentang-mentang sering ke rumah dan udah hapal jalan dia. :D 

Terus datang ke open house general manager kantor papa saya bersama 2 keponakan yang lucu. Yang beda dari tahun ini biasanya papa saya bareng keluarga teman-teman kerjanya datang ke rumah GM terus sambung ke manager-manager lain. Tapi tahun ini semua dijadikan satu tempat di rumah dinas GM. Berhubung dekat banget sama rumah saya, cuma beda 5 rumah jalan kaki lah kita ke sana. (ya ampun cuma beda 5 rumah tapi nasib beda banget ya pak :)) ). Sampe sana shock, ini open house apa kawinan, pake band dan mc segala. Dan akward banget, begitu sampe salaman sama GM dan manager beserta istri-istrinya, i told you panjang benerrrrrr yang harus disalamin. Terus makanannya beda lagi sama tahun lalu, kalau dulu ada lasagna, klapertaart, es krim walls, beragam minuman kotak dan buah berlimpah sekarang yang ada lebih Indonesia. Makanan Indonesianya sama dengan tahun lalu, cuma lebih banyak jenisnya. Sayangnya karena tempatnya jauh lebih rame dari tahun lalu dan gak bisa duduk jadi makan cuma sekedarnya aja. Huhh :(( 

Setelah itu saatnya keliling ke rumah saudara-saudara. Pake 3 mobil dan entah berapa sepeda motor. Dalam hati kasian sama saudara yang didatangin sekali datang langsung berapa puluh orang. Hahaha, padahal biasanya datang sendiri-sendiri. Dan saudara saya yang datang dari pulau Jawa kebanyakan keder gak bisa makan banyak. Tradisi Balikpapan kan biasanya menyajikan makanan berat tiap rumah. Dan di kota besar di Jawa kan itu bukan hal biasa. Jadi keburu kenyang mereka. Hahaha.

2 September
Kita berangkat ngunjungin balik bude yang di Samarinda, oh ralat bukan Samarinda tapi Tenggarong. Jadi ya perjalanan Balikpapan - Samarinda itu sekitar 2,5 jam dan jalannya itu tipikal Kalimantan, berbelok-belok, sedikit naik turun dan kanan kiri hutan! Yang bikin miris itu adalah banyak kecelakaan sewaktu perjalanan kita ke sana, entah motor, mobil, pick up. Dan kejadian banyak banget mobil mogok. Saya rasa itu karena gak tau medan dan mobilnya kurang disiapkan. Sampe Samarinda perjalanan lanjut ke Tenggarong sekitar 1 jam, jalannya itu naik turun banget, persis lagu ninja Hatori "mendaki gunung, lewati lembah", tetep ada pohon-pohon dan sedikit jurang. Ngekkk. Mana jalannya ada banyak yang aspalnya ancur pula. 

Sampe di Tenggarong tepatnya di Teluk Dalam rumah pakde saya, saya terpukau. Tempat ini gak sedesa yang saya bayangkan. Soalnya hampir gak pernah ke sana. Punya papa yang harus standby 24 jam dan harus ijin kalau pergi lebih dari 20km dari pabrik walaupun hari libur itu jadi susah ke mana-mana. Ke sanapun papa saya gak ikut, karena gak enak kalau mau ijin padahal gak lebaran. 

Dan rumah pakde saya ini guede buanget, sampai kata sepupu saya "ini kayak rumah bupati teluk dalam". Hahaha. Jadi daerah ini dulu awalnya adalah daerah transmigrasi, jadi bayangkan sendiri gimana. Terus setelah otonomi daerah dsb berkembang banget. Namanya aja bagian dari salah satu kabupaten terkaya di Indonesia, Kutai Kertanegara. Walaupun bukan jadi kota besar tapi untuk daerah yang sedikit di pelosok itu, daerah itu udah lumayan banget.  Kita dikasi makan bakso, sop kepala ikan, pepes ikan patin, ikan mas goreng. Slurppp. Trus jam 4 sore pamit pulang ke Balikpapan. Dan jalanan yang sama itu kalo udah senja dan malam jadi beda banget ya. Jauh lebih nyeremin. Lampu jalan minim banget. Dan hutan itu di malam hari serem kan ya. Puji Tuhan sampai dengan selamat, cuma agak pusing dan mual aja karena jalannya naik turun dan berkelok.


Itu cerita lebaranku, ceritamu apa? Apapun ceritanya, pasti kalau sama keluarga menyenangkan ya. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Another Amazing Year


Birthday cake from my sisters  

Hari ini umur saya tepat 23 tahun 1 minggu. Tanggal 27 Juni minggu lalu saya berulang tahun. Terima kasih banyak untuk ucapan dan doanya ya. Yang belum ngucapin ditunggu lho kadonya. #ehhh ;p

Banyak banget pelajaran yang saya ambil di tahun ini. Banyak banget colekan dari Tuhan yang bikin saya tersadar kalau apa yang saya pikir benar dan memang seharusnya itu ternyata salah. Puji Tuhan, teguran itu ditunjukkan lewat orang lain. Karena saya gak kebayang kalau itu terjadi sama saya. Mau berbagi cerita ya. *duduk manis semuaaaa*

Di usia saya, pacar itu adalah hal yang lumayan menghabiskan pikiran. Apalagi kalau jomblo seperti saya ini (sekalian promosi *pasang iklan jodoh* ;p). Ada banyak pertanyaan di pikiran saya. Kenapa belum datang sang tulang rusuk itu? Tapi kemudian Tuhan beri jawaban melalui blog-blog inspiratif yang saya baca. Gak perlu repot memikirkan pacar, karena pada waktuNya dan seijinNya saya akan mendapatkan pacar (calon suami) yang baik. Yang perlu dilakukan hanya berdoa dan menyiapkan diri. :) Saya juga bersyukur sekali walaupun saya pengen punya pacar tapi tidak sedesperate itu untuk buat pacar fiktif. Ya, pengalaman teman saya yang mengarang cerita soal pacar fiktif lengkap dengan membuat FB fiktif pacarnya pula itu membuat pikiran saya jauh lebih terbuka. Ada banyak hal lain yang bisa dilakukan daripada hanya memikirkan cowo. :D

Saya pernah menderita demam berdarah berkali-kali. Yang terakhir malah harus dirawat di ICU, makan lewat selang, tranfusi darah beberapa kantong, 27 botol infus dan vonis kalau tidak akan berumur lama. Karena banyak cerita dari orang lain kalau demam berdarah itu kalau sudah pernah kena parah tidak akan terjadi lagi membuat saya santai dan menganggap remeh. Ternyata Tuhan punya cara untuk membuat saya tidak sombong lagi. Januari kemarin waktu pulang ke Balikpapan saya kena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Dan itu salah satu siksaan terbesar, karena saya BENCI rumah sakit. Aura rumah sakit gak pernah menyenangkan untuk saya. Tapi Tuhan beri penyakit lengkap dengan penyembuhannya. Tuhan kasi saya kamar yang bagus, perawat yang ramah dan dokter yang baik. :)
 
Puji Tuhan saya dan keluarga dilindungi oleh asuransi dari perusahaan papa saya. Dan selama ini kalau sakit saya akan dirawat di rumah sakit yang bagus di balikpapan lengkap dengan fasilitas yang memadai. Ketika di Surabaya pun asuransi sempat dipercayakan pada salah satu rumah sakit spesialis yang mewah. Buat saya (dulu) itu hal yang biasa, gak perlu disyukuri karena itu memang hak. Jadi ketika demam berdarah kemarin, saya yang harusnya dapat kelas 1 di rumah sakit jadi mengomel karena harus opname di kelas 2 bergabung dengan 1 pasien lain karena kelas 1 sedang penuh. Yang jadi pikiran saya saat itu cuma satu, mama saya yang menjaga akan sulit tidur karena hanya disediakan 1 kursi. Padahal pasien sebelah saya itu sakitnya lebih parah dan orangnya tenang-tenang saja. Jadi harusnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dan ketika akhirnya di hari kedua saya pindah ke kelas 1 di bagian rumah sakit yang baru gak kepikiran tuh kalau ini sebenarnya anugerah dari Tuhan. Padahal ruangannya bagus, nyaman, besar walaupun hanya untuk 1 orang, ada sofa yang bisa dijadikan kasur dsb. Saya pikir ya itu hak kita karena papa saya sudah kerja keras. Sekali lagi Tuhan tegur saya yang sombong ini. Beberapa hari yang lalu saya menjenguk teman SMA adik saya di RS Dr.Soetomo. Temannya ini sungguh kasihan karena jatuh dari ketinggian 10m, kurang mampu, dan dipindah dari RS di Jombangkarena kurang fasilitas. Adik saya beberapa kali menjenguk sambil mengantarkan bantuan dana dari teman-temannya di Balikpapan. Adik saya ini satu-satunya orang yang menjenguk dia karena memang dia tidak punya teman di Surabaya. Kebetulan waktu itu saya ikut menjenguk dia. Begitu masuk ruangan dia dirawat rasanya langsung nyess banget. Kasihan, sedih, prihatin jadi satu. Ruangan dia dirawat adalah satu ruangan besar yang disekat-sekat dan ditengahnya ada meja untuk perawat. Setiap sekat diisi sekitar 8orang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Jarak antar tempat tidur sangat sempit, gak ada kursi untuk yang jaga, gak ada tiang infus hanya kawat dibentangkan untuk mengantung infus, seprei dengan warna putih yang buram, sementara di luar ruangan para penjaga orang sakit tidur hanya di tikar yang digelar di lantai. Mau nangis rasanya, saya sangat beruntung. Tuhan sangat baik sama saya :)

Kejadian lain yang menusuk hati saya adalah soal teman saya. Dia itu lebih kaya dari saya, uang saku lebih banyak sehingga bisa jalan kemanapun, beli baju bagus, tas bagus, sepatu bagus. Singkatnya saya sedikit iri dengan dia. Hingga saya disadarkan oleh fakta bahwa ternyata uang yang dia habiskan selama ini tidak sepenuhnya halal. Dan sekarang pun ekonominya sedang bermasalah. Terimakasih sekali lagi Tuhan, Kau tunjukkan padaku. :)

Tapi Tuhan selain menegur juga memberikan anugerah lain yang luar biasa.


Juli tahun lalu saya berkesempatan pergi ke Yogyakarta setelah beberapa tahun tidak ke sana. Walaupun sangat singkat tapi saya sempat mengunjungi objek-objek wisata yang menyenangkan. Sebelum Yogyakarta digempur letusan gunung.

Taman Nasional Gunung Merapi :)

Lebaran lalu sempat reuni dengan teman-teman SD. Bangga rasanya mantan ketua kelas ini bisa mengumpulkan lebih dari separuh teman-teman yang sudah terpisah lebih dari 10 tahun. :) 

   
Dari sekitar 40an orang satu angkatan, terkumpul segini :)

November tahun lalu saya juga sempat ikut papa saya lomba internal perusahaan (menang juara 2 yayy!! :)) di Jakarta. Dan sempat diajak pula ke Ciater sama om saya. 
Mejeng di jembatan Trans Jakarta PIM ;p

Somewhere di pinggiram Jakarta ;p
Januari tahun ini usia pernikahan papa dan mama saya tepat 25tahun. Puji Tuhan ada rejeki untuk buat doa yang sedikit lebih meriah dan saya bisa hadir. Semoga pernikahan papa mama saya selalu langgeng ya Tuhan. Amin :)

Tahun ini puji Tuhan diberi rejeki sehingga keluarga saya bisa punya rumah di daerah Malang (Singosari). Tempat yang nyaman, dingin, tidak terlalu ramai tapi mudah diakses. Puji Tuhan :)

I must say, hidup saya penuh dengan berkat. Tak cukup terima kasih setiap hari :)
Terima kasih Tuhan untuk segala pertolonganMu sepanjang umurku. Lindungilah aku selalu, tunjukan jalan menuju padaMu, pakailah aku sebagai perpanjangan tanganMu, dan lindungilah keluargaku selalu. Karena hanya ke dalam tanganMu kuserahkan seluruh hidup, jiwa dan ragaku. Amin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dear mbak Lany


Dear mbak Lany,
Kita mungkin tidak diberi waktu yang cukup untuk saling mengenal.
Masih ingat pertama kali dengar namamu dari percakapan mama dengan mbah dan para bude yang menyebut bahwa kamu akhirnya adalah orang yang dipilih dan memilih untuk menikah dengan sepupuku. 

Kunjungan pertamamu ke Balikpapan, aku lagi ada di Surabaya.
Aku juga tahu bahwa kamu dan mas Didit mengalami pacaran jarak jauh selama beberapa bulan. Begitupun dengan persiapan pernikahan kalian yang dilakukan hanya olehmu dan keluarga mas Didit karena Mas Didit masih kerja di Balikpapan. 

Juli 2010, setelah bertahun-tahun lamanya tidak menginjak Yogyakarta aku dan keluarga pergi ke sana untuk menghadiri pernikahanmu. Masih ingat jelas bagaimana kamu menangis saat mengucapkan janji pernikahanmu di hadapan Tuhan. Terharu dan ingin menangis juga rasanya di gereja. Dan gak pernah saya lupakan bahwa di resepsi pernikahanmu saya melihat senyum yang lebar dan hangat dari Mas Didit, seorang yang pendiam dan jarang tersenyum. Dia begitu senang bisa menikahimu. 

Pertemuan kedua kita waktu kamu datang ke rumah Mas Didit satu hari setelah pernikahan untuk sowan ke keluarga yang masih ada di Yogya. Setelah itu kamu pindah ke Balikpapan mengikuti Mas Didit.

Pertemuan ketiga kita saat bertemu di bandara, seminggu setelah lebaran. Waktu itu aku kembali ke Surabaya dan kamu sedang bekerja di bandara. 

Pertemuan keempat terjadi saat kamu dirawat di rumah sakit. Dua hari setelah aku pulang dari opname di rumah sakit. Saat itu kamu terlihat kurus, lemah tanpa tahu sakit apa. Dan kemudian kamu dibawa pulang ke Yogyakarta untuk melanjutkan perawatan. Semua orang melanjutkan hidup dengan biasa. 

Sampai 6 jam yang lalu papa saya menelepon untuk mengabarkan bahwa kamu telah tiada. Kamu telah dipanggil Tuhan untuk berada di sampingNya. Sesak rasanya mengingat sempitnya waktu pernikahanmu, sempitnya waktu kita untuk mengenal. 

Tapi aku tahu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. You're in a good hands now, God's hand. You're in a better place now. God loves you so much. 

Thank you for entering Mas Didit's life. Although it's really a short time. Doakan mas Didit supaya kuat ya. 

I ♥ you mbak Lany.

Ps : ini foto souvenir pernikahan Mbak Lany dan Mas Didit (Teguh). Masih tersimpan di kos, dan sedih rasanya melihatnya.

♥ If life was easy, where would all the adventures be? ♥

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bulan Maret yang Nano-Nano

Bulan Maret ini gak seperti bulan-bulan yang lalu, perasaan saya bulan ini seperti dikocok-kosok. Seperti naik roller coaster, mood naik dan turun. Sedih dan senang bagai gak ada batasnya. Let’s start dengan cerita sedihnya.


Adek saya bulan ini harus operasi karena suatu penyakit, yang bisa dibilang seram tapi juga bisa dibilang penyakit kecil. Sebenarnya diagnosa sudah didapat dari akhir tahun lalu. Tapi masih ditunda operasinya karena siapa tahu penyakitnya mau merespon obat yang diberi, tapi rencana Tuhan ternyata mengharuskan adek saya dioperasi.


Mama saya pun datang khusus dari Balikpapan untuk keperluan operasi ini. 3 minggu di bulan Maret ini saya habiskan dengan pulang pergi RS Husada Utama. Bahkan karena pengen nyari second opinion kita pergi ke RS Siloam. Padahal sebelumnya second opinion sudah didapat di RS Balikpapan. 1 minggu pertama dihabiskan dengan periksa dan tanya-tanya soal prosedur operasi dan dampaknya. 1 minggu berikutnya dihabiskan dengan opname di RS untuk operasi, dan minggu terakhir adalah masa pasca operasi yang juga harus bolak balik operasi. puji Tuhan semua berjalan baik, terima kasih untuk dokter dan perawatan yang maksimal dari RS Husada Utama. Doakan semoga adek saya pulih seperti awal yah. 


Kabar lain yang cukup buat down, adalah karena saya dapat kabar kalo teman SD saya kena kanker kulit stadium akhir. Cukup mengejutkan memang, karena kami sempet pengen bikin reuni SD lebaran kemarin tapi gak jadi. Dan saya pun di tag foto dia di RS, badannya kurus banget. Jauhhhh sekali dari bayangan saya tentang dia. Dia saya kenal sebagai anak yang lincah banget, rame dan seru. Tapi yang saya lihat ini... saya menulis postingan tepat ketika saya dengar bahwa dia akhirnya dipanggil Tuhan. Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk keluarga yang ditinggalkan. Percayalah bahwa Tuhan sangat sayang karena itu dia dipanggil cepat. Sekarang saya yakin dia sudah berada di tempat yang indah dan damai. Dan dia sedang tersenyum ke arah kita.


Masih soal kesehatan, kemarin papa saya telp dan bilang kalo dia kena suatu penyakit. Penyakitnya ringan sebenarnya, tapi tidak pernah disangka kalo papa saya akan kena penyakit itu. Dan diputuskan kalo saya harus check up, untuk melihat kondisi tubuh saya. Sepertinya papa saya cukup shock dengan sakit adek dan dia sendiri. Yah semoga tidak ada apa-apa yah.


Tapi memang Tuhan itu adil, adil banget malah. Dia beri “colekan” (tidak pantas rasanya menyebut cobaa bila melihat karuniaNa pada saya) tapi dia juga beri sentuhan yang indah. Tiba-tiba dapat rejeki untuk mengganti hape saya jadi blackberry. Gak pernah diduga, karena bahkan saya gak minta ke papa untuk mengganti hape. Hanya obrolan kecil dengan kakak dan papa saya.


Terima kasih Tuhan, untuk bulan Maret yang indah ini. Kau ajarkan kami untuk lebih peduli dengan kesehatan. Kau ajarkan kami untuk mampu menari di dalam hujan, bukan hanya menunggu hujan berhenti. Terima kasih telah memberi kesempatan pada saya agar menjadi lebih tegar. I love You more and more dear God.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Malaikat tak Bersayap



Ini dia (salah satu) malaikat tak bersayap buatku. Orang yang mengandung aku 9 bulan lebih, yang bertaruh nyawa melahirkanku, yang dengan begitu sayang membesarkan dan merawatku. Ini dia mama, mami en ibuku.

Mamaku ini punya intuisi yang kuat, apalagi kalau menyangkut anak-anaknya. Bukan satu dua kali aku terkaget-kaget mamaku ngomong sesuatu yang pas banget sama aku. Saat mulai kere en kehabisan uang (maklum anak kos), dia bisa telpon en tanya. “Duitnya masih ada nduk, kalo kurang bilang yah”. Saat aku mulai malas doa, dia slalu ngingetin “Jangan lupa doa yah nduk, sekedar ngucapin terima kasih aja sama Tuhan”.

Dia juga orang yang paling bisa buat aku bangga en terharu, selain papaku tentunya. Nilaiku naik sedikit ajah udah bisa buat dia senang banget. Dia bisa bikin aku kangen banget en pengen pulang hanya dengan kata-katanya “Kamu pulang kapan? Ubanku gak ada yang nyabutin”. Bahkan saat ngetik ini aja aku udah mau nangis.

Tapi ada satu pesan yang sampai sekarang belum bisa kupenuhi. Kalo aku mulai dekat dengan cowo, apalagi yang “beda” dia kayaknya udah punya firasat. Dia gak pernah secara langsung bilang aku harus dengan orang yang seagama. Tapi dia slalu bilang gini tiap telpon. “Belajar yang bener yah nduk, cepet lulus trus kerja dan nikmatin dulu hasil kerjamu. Baru kalo udah siap dan dapat pasangan yang pas, biar bapak yang ngantar kamu ke altar”.

Lebih nusuk kan??? Doakan anakmu ini yah ma, biar pesanmu itu bisa kulaksanakan.

*postingan yang cocok diposting saat valentine ini, tanda cinta untukmu mamaku*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS