
Ada yang pernah nonton Grey's Anatomy? Saya menemukan wedding vow yang bagus banget di Grey's Anatomy Season 3.
Wedding vow ini dibuat oleh Preston Burke, seorang dokter bedah jantung.
"I could promise, to hold you, and to cherish you.
I could promise, to be there in sickness and in health.
I could say, til death do us part.
But I won't.
Those vows are for optimistic couples, the ones full of hope.
And I do not stand here, on my wedding day, optimistic, or full of hope.
I am not optimistic, I am not hopeful.
I am sure.
I am steady.
And I know...
I'm a heart-man.
Take them apart, put them back together.
I hold them in my hands.
I am a heart man.
So this i am sure.
You are my partner, my lover, my very best friend.
My heart, my heart, beats for you.
and on this day, the day of our wedding, I promise you this:
I promise you, to lay my heart in the palm of your hands
I promise you, me."
Ohhh, meleleh deh saya
Wedding Vow Grey's Anatomy Season 3
I just don't know how love works?
You're in love and a not long after you're the one with broken heart.
Crying all the time like it's the end of the world.
But in days or months after, you're laughing, hug, and in love with other person.
How do you know whether is right or wrong person?
Hmm I guess the only thing to find out is take all the risk and just in love.
In the end you will know the answer.
Broken heart will make you strong.
What doesn't kill you makes you strong.
Isn't it?
Am I really the one that can't move on?
Stuck in this without knowing how to get out.
Geez, I'm feeling crazy right now.
Ohh no, it's not about boy.
Cin (T) a
and God loves them both
But Cina and Annisa cannot love each other
because they call God by different name
In my arrogance I question your wisdom
In your mistery, you create temptation
In my inferiority, you make me more than I am
Here I am
Surrender me in the agony of your ♥
Surrender me in the irony of your law
Lead me to the joy of ♥ redivined
Teach me how to ♥ you more
Tega banget ya bokap lo, udah tau muka lo Cina masih dikasi nama cina
Tega kali bapak kau udah tau muka kau perempuan masih dikasi nama perempuan
Emangnya yang boleh sehat cuma orang kaya yah
Buat apa punya pemerintah kalo gak bisa ngasi rumah buat warganya
Kau disubsidi sekolah di sini buat bantuin pemerintah mikir kalo kau bisanya cuma nyalah-nyalahin pemerintah buat apa kau diluluskan? Republik ini udah kebanyakan sarjana nyinyir
Arsitek itu suka berasa Tuhan, berasa yang paling tahu rancangan terbaik buat manusia
God is architect
Yakin lo mau sama gue, Tuhan gue aja berani gue khianatin apalagi lo ntar
Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda kalau Tuhan cuma pengen disembah dengan satu cara?
Makanya Allah nyiptain ♡ biar yg beda-beda bisa nyatu
Biar kau lihat agama tuh udh jadi propaganda paling murah sepanjang sejarah
The Calling

Novel ini adalah salah satu novel duet yang tidak biasa seperti taglinenya “an unusual romance story”. Ditulis oleh dua orang pasti menimbulkan dua sudut penulisan bukan?
Tentang dua gadis Elana dan Saski. Dua gadis yang berbeda yang terpisah jarak namun disatukan oleh bayangan kelam yang hampir sama. Dua gadis yang spesial namun dengan masa lalu yang gelap. Bali, Yogyakarta, dan Manchester . tiga tempat yang punya pesonanya masing-masing, tiga tempat dengan budaya yang berbeda namun ternyata merupakan tempat yang saling berhubungan.
Saya suka bagian pengkhianatan yang harus dialami Saski, rasanya ikut marah sedih dan hancur bersama Saski. Saya juga ikutan bingung seperti Elana, yang sering dihantui bayangan-bayangan tanpa tahu maksud sebenarnya bayangan itu.
Saya suka karakter Saski yang gelap, penuh masalah yang menghantam bertubi-tubi. Saya suka sikap acuhnya, namun terkadang benci dengan sikapnya yang selalu putus asa. Saya suka Elana yang digambarkan sebagai anak yang manis, kaya, namun ternyata menyimpan luka yang dalam. Saya juga ikut marah, kesal pada tante dan omnya yang kurang ajar.
Tapi yang kurang dari novel ini adalah detail pekerjaan. Sebenarnya gak terlalu penting, tapi saya adalah penikmat cerita yang berhubungan dengan profesi semakin detail semakin bagus. Saya gak tahu Saski itu ngapain aja di kampus, atau Elana itu jual apa saja di Art Craftnya. Serius deh gak penting sebenarnya mau saya ini. ;p
Yang paling saya suka adalah bagian akhir (tentu saja), saat akhirnya mereka sama-sama mengerti tentang “panggilan yang selalu mereka rasakan. Saya suka penggabungan dua cerita ini, pelan tapi pasti. Yang alurnya agak cepat adalah kenapa Saski tahu-tahu ...... di hotel (baca sendiri! Ntar ga surprise ;p). Alur terbalik untuk bagian ini rasanya kurang begitu jelas, terlalu singkat.
Harga novel ini buat saya tergolong mahal Rp 56.000,00, memang bukunya lumayan tebal dan kertasnya bagus. Namun saya rasa untuk penerbit yang baru seperti itu bukan strategi yang bagus mengeluarkan novel dengan harga mahal. Mungkin juga disebabkan karena mereka harus membayar dua penulis sepertinya. Tapi harganya SEPADAN dengan cerita tidak biasa yang kalian dapatkan. Duet yang sukses Asrini Mahdia dan Rina Suryakusuma. Great job!!!!
Lukisan Keempat

Sebagai seorang stewardess dari maskapai penerbangan internasional Corissa Airlines, tidak ada satu orang pun yang mengira bahwa Natasya Petra Rahadian memiliki 3 fase kehidupan yang membuat dirinya terluka karena cinta.
Dimulai dari ayahnya sendiri, yang memalingkan wajah dan mengabaikannya ketika ia masih kecil. Kekasih masa kuliah yang menduakannya dengan sahabat akrabnya sendiri. Dan terakhir, pilot yang dekat dengan dirinya ketika menjalani pelatihan, dan berselingkuh dengan teman sekamarnya.
Dan Natasya bersumpah untuk tidak lagi jatuh cinta. Sampai ia bertemu dengan Craig Hayden, penumpang Corissa Airlines yang menyebalkan. Sementara Craig sendiri sudah tertarik pada gadis yang begitu menawan hati, kali pertama ia memandangnya. Dan entah bagaimana Craig tahu, gadis ini memendam luka di hidupnya. Ia bertekad untuk menyingkap kabut tersebut, memberi Natasya siraman kasih sayang, mengembalikan kepercayaannya kepada cinta.
Mampukah Craig membuktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya? Bisakah Craig mewujudkan tekadnya untuk menjadi bagian dari lukisan hidup Natasya yang keempat, sekaligus yang terakhir?
***
Ini buku kedua Rina Suryakusuma yang saya baca, setelah sebelumnya dapat novel Puzzle secara gratis. *wink*. (Ci bener deh, saya udah nyari novel Ci yang lain tapi belum ketemu)
Penampakan novel ini memang agak aneh dan gak biasa. Kecil mungil tidak seperti novel Gramedia lain (herannya harganya kok gak ikutan mengecil yah ;p). Dan covernya juga gak biasa untuk novel Gramedia lain. Sampai di Gramedia Tunjungan Plaza ditaruh bukan di deretan novel Gramedia tapi di deretan novel dengan cover senada. =)
Saya suka novel ini, romantis banget. Benar yang ditulis Ci Rina dalam blognya , dia memang jago nulis novel romantis. Yang saya suka ini bukan novel romantis yang puitis banget sampai bacanya bingung dan harus mikir. Ini novel romantis yang ditulis dengan kata-kata sederhana.
Saya suka penggambaran Corissa Girl di sini, mahal, berkelas dan ramah. Terus terang saya mendapat banyak cerita miring soal pramugari, yahh korban bad publicity kali yah. Tapi di novel ini enggak! Keren banget! Ditulis dengan detail pelatihan menjadi pramugari yang tidak gampang, kondisi pesawat dan jenis penumpang juga dikisahkan dengan baik.
Saya suka dengan konflik batin yang dialami Natasya (ohh, apakah ini diambil dari nama saya? :p). Diungkapkan di waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat. Siapa sangka alasannya benci laki-laki adalah.. ahh baca sendiri deh..
Dan tentang judulnya, saya juga sedikit bertanya-tanya soal judul yang saya rasa unik ini. Namun akhirnya saya tahu kenapa dinamakan Lukisan Keempat. Judul yang tepat dan indah. Great job Ci.
Badminton Freak
Tapi kini, di usianya yang ke-18, Fraya terpaksa menerima kenyataan bahwa cita-citanya tak terwujud. Semua karena Mama melarangnya masuk klub bulutangkis saat ia kecil dulu. Fraya hanya bisa menyalurkan cintanya pada bulutangkis melalui ekskul di sekolah, yang tentu saja tak cukup untuk menampung bakat dan ambisinya yang begitu besar.
Dan seakan itu semua belum cukup, Fraya juga harus terima bahwa pacarnya, Albert, lebih suka ia jadi anggota cheerleader daripada berjibaku mengejar shuttle-cock di lapangan. Padahal, apa sih asyiknya pakai rok mini lalu loncat-loncat sambil pegang pom-pom?
Ketidaksukaan Albert pada bulutangkis memuncak ketika Fraya membohonginya demi bisa menonton kejuaraan Thomas-Uber Cup di Istora Senayan. Albert marah besar, dan menghukum Fraya dengan cara melarangnya menonton Thomas-Uber Cup live selama sisa pagelaran itu berlangsung. Padahal, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, tim Uber Indonesia berhasil masuk babak final!
Kalau sudah begini, mana bisa Fraya terus bertahan sama Albert? Mending putus aja, kan?
***
Tidak seperti novel-novel sebelumnya, salah satunya adalah Dear Dylan yang masih diselipi humor Badminton Freak ini lain. Bukan gak ada humornya sama sekali, tapi memang membaca novel ini mampu mengocok perasaan. Novel ini penuh dengan emosi.
Stephanie Zen berhasil mengangkat suasana Uber dan Thomas Cup dengan sangat baik. Ini salah satu pertandingan yang saya ikuti dengan baik, jadi saya tahu kondisinya. Istilah-istilah bulutangkis ditulis dengan tepat. Komentar-komentar pertandingan juga persis seperti aslinya. Inilah hasilnya kalau novel ditulis oleh orang yang mengerti dan dapat bermain badminton. I’m really sure beberapa persen ceritanya pasti cerita nyata penulisnya. *betul begitu steph? ;p*
Di novel ini kita dibawa mengikuti perasaan Fraya yang naik turun. Ada kalanya dibuat begitu excited seperti pada saat nonton pertandingan, dan tiba-tiba dibuat sedih sekaligus marah saat Fraya dilarang nonton final (asli kalo saya jd Fraya saya nekat deh nonton*), dibuat down saat mengingat ambisinya yang sempat terkubur juga dibuat kaget saat tahu alasan sebenarnya Mama melarang masuk klub. Dan dibuat malu-malu saat dia bertemu... ah baca aja deh ntar saya spoiler lagi. ;p
Dari novel ini saya belajar kalo menyesal itu gak ada gunanya, hanya menambah beban yang berat banget. Kalo kamu punya impian dan ambisi harus dicoba diwujudkan, gagal di belakang itu adalah hasil yang paling penting itu adalah proses yang gak bakal bisa diulang lagi. Kalo memang sudah tidak bisa lagi mewujudkan mimpi. Gak ada salahnya mimpi itu sedikit diputar sudutnya. Seperti Fraya di akhir cerita misalnya ;p
Kartiniku
Papa dan mama saya terlahir bukan dari keluarga berada. Walaupun sepertinya papa saya adalah keturunan keluarga priyayi. Dan kalo tidak salah di nisan Eyang putri saya ada tulisan RA/RRnya. Tapi mereka bukan orang kaya. Papa saya merantau dari kotanya di Kediri ke Balikpapan untuk mencari nafkah. Keluarga mama saya adalah keluarga yang hidupnya semi nomaden. Mama saya pernah beberapa kali ikut kakaknya yang telah menikah. Sampai akhirnya Mbah kakung saya memutuskan pindah ke Balikpapan meninggalkan pulau Jawa.
Tidak seperti kakak-kakaknya yang menikah muda, mama saya memutuskan untuk bekerja dulu menyenangkan diri sendiri dan orang tuanya sebelum menikah dengan papa saya di umur 23 tahun. Mungkin karena itu di saat-saat akhir kuliah, tidak seperti orangtua lain yang ngejar anaknya supaya cepat nikah. Orangtua saya ngejar saya untuk bekerja (mama) atau melanjutkan kuliah (papa). Karena mereka menganggap sebelum terikat dengan seseorang harus bisa menyenangkan diri sendiri dulu dan kalau bisa menyenangkan orangtua.
Perjuangan papa dan mama saya untuk membesarkan kita tergolong keras. Dengan penghasilan sebagai karyawan yg tergolong baru di tempat masing-masing sudah harus membiayai 3 orang anak yang umurnya berdekatan. Kakak ke saya 23bulan, saya ke adik 17 bulan. Mama saya dituntut untuk mampu mengelola keuangan sedemikian rupa agar cukup bagi keluarga. Dan herannya saya tidak pernah merasakan yang namanya kekurangan. Makan tetap bergizi dan masih dibelikan sesuatu kadang-kadang. Padahal kata mama saya ilmu manajemen keuangan yang paling susah adalah keuangan rumah tangga.
Mama saya dului adalah seorang karyawati yang terkadang suka lembur bila ada acara. Tapi tidak seperti di film atau sinetron. Saya TIDAK PERNAH kekurangan kasih sayang. Saya tetap dekat dengan mama saya, tetap segan dengan dia. Mama saya orang yang hebat, walaupun pulang malam akibat lembur. Masih bisa menyelesaikan PR kesenian saya (satu-satunya pelajaran yang PRnya sulittt ;p) dan besoknya masih bisa bangun pagi menyiapkan keperluan saya.
Saya merasakan kalau berkat Tuhan ke keluarga saya begitu besarrr, saya yakin itu karena Dia merestui kerja keras kedua orang tua saya. Pelan-pelan keadaan keluarga mulai naik. Apa yang sebelumnya masih mimpi sekarang sudah bisa dipenuhi. Dulu orang banyak yang mencemooh ketika Papa saya bilang anak-anaknya bisa sekolah di PTN. Alasan papa saya adalah karena PTN itu bagusss dan terjangkau. Saya ingat papa saya pernah bercerita kalau banyak teman yang bilang itu mustahil.
Namun sekali lagi karena kehebatan Mama saya mengelola keuangan, kerja keras dan kepercayaan Papa saya yang besar ke anak-anaknya akhirnya kami semua bisa masuk PTN di Jawa Timur. Mungkin berat sekali bagi Mama saya untuk melepas kami ke luar kota, namun dia tahu kalau anaknya harus belajar mandiri. Mama saya selalu berpesan agar jangan lupa berdoa. Karena Tuhan yang buat segalanya terjadi.
Ketika akhirnya beberapa tahun lalu Mama saya harus berhenti kerja karena perusahaannya bangkrut. Mama saya tidak pernah terpuruk. Ada beberapa perusahaan lain yang menawarkan pekerjaan dan bahkan menawarkan diri jadi dosen sebuah sekolah perhotelan semua ditolak. Untuk perusahaan, rasanya gaji tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan. Di rumah tinggal mama dan papa saya, rasanya tidak mungkin kalau mama saya masih harus lembur. Dan untuk menjadi dosen rasanya juga tidak mungkin, karena walaupun punya pengalaman panjang di bidang perhotelan tetapi mama saya hanya lulusan SMK.
Tuhan memang Maha Baik, begitu mama saya berhenti kerja rejeki datang silih berganti. Keuangan keluarga sudah lebih dari cukup.
Mama saya yang sekarang adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif berorganisasi. Dia dengan mudahnya masuk dan bersosialisasi dengan pejabat-pejabat kantor papa saya. Bahkan diberi jabatan oleh organisasi ibu-ibu karyawan. Mama saya bukan seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu untuk menonton sinetron atau bergosip di telepon. Mama saya yang sekarang adalah orang yang bangun pagi mengurus keperluan papa saya sebelum kerja. Dan kemudian pergi keluar untuk berorganisasi. Dia selalu mengusahakan pulang sebelum papa saya pulang makan siang. Mama saya adalah seorang ibu yang mencoba mengikuti perkembangan jaman. Namun tidak pernah lupa kodratnya sebagai wanita dan seorang ibu. Dan tidak pernah lupa berdoa dan bersyukur. Dia orang yang dulu mencubit saya kalau ribut di gereja dan sekarang "mencubit" saya kalau hidup saya mulai tidak teratur.
I ♥ you Ma. You are the greatest mother in whole world.
Selamat Hari Kartini untuk kalian semua.
Empat tahun denganmu
Saya juga punya seseorang yang jadi "seseorang yg spesial" di hati saya. Gak pernah jadian dan gak pernah terlibat sesuatu apapun yang berhubungan dengan perasaan. You can call me freak or anything. You are right. Aneh rasanya punya "perasaan" terhadap seseorang selama bertahun-tahun yang bahkan orangnya sendiri pun gak menyangka saya bisa segitu lama sukanya sama dia. Hehe.
Tapi ada untungnya juga punya "perasaan" terhadap seseorang. Hidup akan terasa lebih berwarnan. Gak lebay, saya serius! ;) Kita akan punya seseorang yang dikangenin, seseorang yang cuma dengan lihat fotonya di FB, update statusnya, atau dengar suaranya aja bisa bikin mood naik turun. Bisa senyum-senyum sendiri, bisa nangis tiba-tiba.
Kepada seseorang yg pernah merebut sebagian hatiku. Terima kasih sudah mewarnai hidupku. Terima kasih karena hanya dengan melihat wajahmu saja sudah bisa buat senang dan tersenyum. Terima kasih. Semoga kamu dapat yang terbaik yah.
Kepada hati saya sendiri, sudah waktunya menghapuskan dia dari pikiran, hati, dan perasaan. Sudah waktunya membuka hati untuk yang lain. Tapi gak usah buru-buru. Karena Tuhan tahu orang yang tepat dan tahu waktu yang tepat. ☺








